“Mentor saya tidak hanya mengajarkan Alkitab kepada saya — dia menunjukkan bagaimana cara menjalankannya.”
Mai
Mai dipasangkan dengan seorang mentor melalui komunitas lokalnya tidak lama setelah dia mulai hadir — seorang siswa yang lebih tua yang bersedia bertemu setiap minggu sambil menikmati kopi instan dekat stan pasar di dekat kampus.
Percakapan mereka jarang tetap bersifat teoretis. Ketika Mai menyebutkan bahwa dia merasa cemas tentang konflik keluarga, mentornya tidak hanya menunjuk padanya sebuah ayat — dia duduk bersamanya, berdoa bersamanya, dan memeriksa kabar di minggu berikutnya.
"Dia tidak hanya mengajarkan saya Alkitab," kata Mai. "Dia menunjukkan kepada saya bagaimana menjalankannya, dengan cara yang biasa, tanpa glamor. Itulah yang membuatnya menjadi nyata bagi saya."
Mai kini menjadi mentor bagi dua siswa yang lebih muda, menemui mereka di stan pasar yang sama tempat mentoringnya dimulai.


